Soal Spekulasi paling Berbahaya
Air yang terlihat tenang di permukaan, belum tentu memiliki situasi yang sama pada dasarnya. Ada air yang begitu tenang dan tak kedapatan tanda-tanda bahaya, namun pada titik terdalamnya menyimpan rahasia di mana kamu tidak boleh berenang di sana.
Yang terlihat tenang biasanya yang menyimpan banyak klandestin yang tak dapat diungkap sembarangan, tak semua orang harus tahu, setidaknya untuk kebaikan bersama.
Justru, kita harus lebih berhati-hati dalam memberi spekulasi.
---
Apa yang terlintas dalam kepalamu kala aku menyebut tentang spekulasi yang terkesan mengada-ada?
Dusta? Omong kosong? Fitnah? Atau yang lainnya?
Spekulasi yang mengada-ada hanyalah segumpal bualan yang tak berbobot. Hanya segelintir orang yang memiliki dasar kebenaran dan pemikiran waras atas spekulasi yang diberikan, sisanya hanyalah sebagian besar orang yang membesar-besarkan omong kosong kemudian merayap hingga ujung dunia dan parahnya lagi tak ada yang mencurigai, mereka menerima kabar tanpa menyaringnya.
Sungguh berbahaya dan menyebalkan.
--
Sesuatu yang tampak bersinar belum tentu dalamnya memiliki terang yang sama. Terkadang sebaliknya. Sesuatu yang terang menyimpan redup yang teramat muram. Mereka pandai bersandiwara, memeluk lukanya sendiri, dan merasa dirinya baik-baik saja--ia tak mau orang lain tau atas keadaan yang telah dilaluinya beberapa hari belakangan.
Layaknya manusia yang pandai berkamuflase. Manusia yang pandai dalam menutupi semburat ekspresi dukanya. Ketika berada di tempat yang membuatnya tak nyaman, ia seolah-olah menjadi manusia paling baik-baik saja di dunia.
Sedangkan ketika berada di tempat yang ia percaya sebagai rumah, tempat ternyamannya, tempat berpulangnya, dan tempat yang menaungi segala suka dukanya. Ia akan menjadi manusia paling menyedihkan sedunia yang meratapi nasibnya dan menumpahkan segala gundah gulana yang sedang dirasanya.
Izinkan aku sedikit mengapresiasi, aku salut pada kalian yang mampu berkamuflase dengan sempurna, sehingga tak ada keluh sedikit pun yang terucap saat masalah datang memborbardir secara bersamaan pada jejaring media sosial. Bagaimana kalian tetap bisa berdiri sendiri dan merasa semuanya akan berjalan baik-baik saja?
Apa yang membuat kalian tetap begitu kokoh dalam pendirian badai akan berlalu dan pelangi akan muncul setelahnya? Tak semua orang memiliki keistimewaan itu.
Kita, sebagai manusia yang pandai berucap tanpa tahu kebenarannya--tak dapat membungkam mulut orang satu per satu. Mengeluarkan tenaga untuk membuat manusia lain sependapat dengan kita ialah pekerjaan paling sia-sia.
Biarkan saja mereka tenggelam dalam spekulasi yang mereka buat sendiri, fokuslah pada intensi yang menyala dalam lubuk hatimu. Kamu bukan Tuhan yang bisa dengan gampang mengendalikan kehendak orang terhadap kita.
Belajarlah pada danau yang terlihat tenang namun menyimpan rahasia di mana kamu dilarang berenang di sana. Ada sesuatu yang memang perlu diungkap bila itu untuk kebaikan bersama, namun jika kamu merasa membahayakan informasi itu tersebar. Tak apa, simpan saja untuk dirimu sendiri.
--
Akhir kata, soal spekulasi paling berbahaya. Kendalikan lisanmu, jalan takdir bisa berubah sewaktu-waktu, posisikan dirimu yang mendapat bualan tak berbobot saat terkena masalah.
Nelangsa kamu.
Komentar
Posting Komentar