Soal Kupu Rindu yang Diutus untuk Menemuimu
Oh, Kupu-kupu rindu kejarlah tuan itu. Sampaikan salam rinduku untuknya, semoga dia menangkap kode klandestin yang coba kuutarkan untuknya.
- Meresapi rongga dada yang sesak di kala hujan, sembari mengingat dirimu yang kini sudah jauh dalam jarakku.
Warning, ulasan ini fiksi dan tidak nyata. Tapi rindu ini nyata adanya. Dan itu tertuju, hanya untuk dirimu.
Menghirup aroma secangkir coklat panas buatan ibu adalah hal favoritku. Aroma sedap itu mengantarkanku pada nikmat duniawi yang tiada tara, ditambah suara gemericik air hujan di luar sana, juga udara dingin yang seakan mendekap erat tubuhku itu seolah memaksa untuk senantiasa bergelung di dalam selimut. Suasana yang sangat sempurna untuk bersantai, ah lebih tepatnya tidur.
Aku mulai merebahkan diri, menatap langit-langit kamarku yang remang-remang tentunya setelah menghabiskan coklat panas favoritku. Yeah, mana mungkin aku melewatkan momen-momen minuman coklatku yang masih mengepulkan asapnya?
Tentu tidak. Sebelum minuman itu mendingin, aku segera meminumnya sampai tak tersisa. Aku sangat jatuh cinta dengan minuman itu.
Tak hanya pada minuman itu, aku juga jatuh pada sosok tinggi sepertimu yang kutemui di penghujung tahun 2021.
Agaknya, aku sudah mulai gila. Sebelum melantur memikirkan dia hingga berakhir memantik secercah rasa rindu, aku segera menarik selimut menutupi kepala.
Beberapa saat lalu, aku telah menuliskan seonggok pesan bahwa aku sudah merelakanmu. Hahaha, sedikit. Tulisan tentangmu saja, masih tersusun rapi dalam blog ini. Aku masih terlalu payah untuk menghapusmu dalam memoriku.
Kupejamkan mataku sembari memeluk guling biruku. Aku harus segera terlelap untuk menghentikan pikiranku yang sudah mulai ke mana-mana. Aku tak ingin terlarut dalam rindu semu tanpa pertemuan ini.
Ya. Aku harus tidur.
Lima menit, berlalu. Sepuluh menit, berlalu. Tiga puluh menit, berlalu.
Oke, nyatanya aku masih terjaga dari alam bawah sadarku. Kuambil ponselku yang tergeletak di samping bantalku. Sembari menunggu rasa kantuk menyerang, aku mulai mengetik sebuah nama di sana.
Dan muncullah sederet instagramnya, dari yang instagram lama sampai instagram yang aktif saat ini. Seulas senyum kecil tebit saat menjelajahi postingan di instagram lamanya.
Bersamaan dengan itu, ada yang mengalir dari pipi. Hahahaha, lemah sekali diriku ini. Rindu padamu saja pasti menangis. Tak berani mengungkap, tak berani memajang story galau, tak berani menatap. Keberanianku pada saat itu hanyalah sebatas mengabari temanku bahwa aku sangat merindukanmu. Menurutku, itu saja sudah lebih dari cukup.
Mataku menerawang, menikmati hembusan kipas angin yang melekat di atas dinding. Aku sudah tidak berani memegang ponsel, takut tangan ini tak sadar mengetik bagaimana perasaan yang sedang dirasa dan mengirimkannya padamu.
Sesuap dua suap kalimat indah yang terucap dalam interaksi kita dulu, sampai sekarang masih melekat di kepala loh mas. Katamu dulu, jadikan rasa sakit itu untuk menjadi dirimu yang lebih kuat. Selama beberapa saat, teori ini sempat kupegang erat. Tapi sekarang, prinsip itu pergi entah ke mana, aku terperosok sendirian di palung gelap yang menakutkan. Lantas bagaimana aku kembali bisa menbangkitkan nyala dari prinsip yang selama ini kamu berikan padaku jika bukan kamu yang mengatakannya sekali lagi padaku?
Hm, sampai kapan aku berada di titik ini yang sangat lemah dan tak berdaya ini. Tolong beritahu aku cara untuk melupakanmu.
Kuhela napasku berulangkali, perlahan kelopak mataku terasa berat saat rasa kantuk tiba-tiba menyerang dan pada akhirnya mulai terlelap. Apa pun akhirnya, semoga kedepannya adalah hal baik untuk diriku sendiri. Mengenalmu, aku tidak pernah menyesal sedikit pun.
- Draf lama yang mendadak dipublish lagi.
Komentar
Posting Komentar