Kala Penghuni Dunia Overthinking Membilang

Gejolak remuk redam jadi santapan setiap waktu, saat mencoba mengurai kepingan kaset jadul di ruang terkecil hipokampus dalam kepala.


Padahal, diri sudah melarang paksa untuk behenti menorehkan luka dalam sepanjang perjalanan merelakan. Bahkan yang lebih parahnya lagi---hendak berpikir untuk menuntaskannya melalui makan sebanyak-banyaknya makaroni pedas Bulek Nani.

Tapi aku sadar, tidak semuanya bisa diselesaikan dengan makanan. Tidak semuanya---hampir delapan puluh delapan persen sih. Setidaknya, makanan membuat lupa sejenak dari kejaran overthinking yang menuntut segera menyuarakan jawaban.

Dihadapkan dengan kondisi lontaran canda yang tak pernah searah, pemahaman yang selalu dijejali drama putus koneksi satu sama lain, belum lagi kode-kode yang sukar dipahami keduanya, ingin rasanya pergi sejauh mungkin dan menghilang. Menuntaskan kekesalan dengan menendang batu di planet lain.

Entah pemahamanku yang minim untuk memahami dirimu atau kamulah yang memang enggan mengeluarkan sedikit effort untuk berfikir tentang apa mauku. Aku tidak tahu itu dan aku tidak mau tahu.

Rumit, itu pasti. Pada akhirnya, setelah bertengkar hebat dengan penghuni dunia overthinking--mereka berseru lantang dan berulang kali berkata, "Terbanglah!"

Saat terlintas dalam benak untuk menutup kuping seerat mungkin dan bersikap abai pada suara ghaib yang mentitah untuk lekas mengerem sepasang tungkai yang terus saja melangkah, ada satu yang menolak keras.

Dia adalah hati.

Biasanya--atau mungkin kebanyakan orang lain akan lemah jika dihadapkan dengan keinginan hati. Yeah, berhubung aku juga manusia--ya kali sundel bolong fyuh. Aku juga mengalami fase itu, dipaksa bertekuk lutut dengan sang kebesaran hati dan pasangannya, logika.

Setiap hari dihadapkan kondisi seperti itu, lama-lama juga capek. Walau rumit membayangi pandangan, logika dengan anggunnya datang merangkul. "Tak apa, aku bantu kamu merelakan dia, dengan cepat."

Alunan nada logika yang terdengar begitu meyakinkan, akhirnya hanya kubalas dengan senyum singkat tanpa jawaban.

Mereka merayu pelan-pelan tapi pasti. Egoku mengempis, kalah dengan bujuk manis hati dan logika yang menyuruhku untuk berhenti melangkah.

Padahal, rata-rata hati dan logika selalu berjalan tak seiring ya?

Akan kubuat berbeda pada cerita ini, logika dan hati berjalan seiring sebab ada doa yang dilangitkan di masa lampau. Apa pun yang bukan terbaik, semoga diberi kelapangan. Dan apa pun yang terbaik, semoga segera datang.

Satu prinsip yang ku pegang erat-erat sembari memandang luasnya hamparan sawah--satu prinsip yang mengantarkan ku pada gerbang kerelaan yang begitu megah.


Menyusuri Jalan Setapak Tanpa Ujung
Pada Masa Indonesia Bagian Gabut
-fitriviaa

Komentar

Postingan Populer